Laman

Pelajaran Sang Kodok


Sekelompok kodok sedang berjalan-jalan melintasi hutan. Dua di antara kodok tersebut jatuh ke dalam sebuah lubang. Kodok-kodok yang lain segera mengelilingi lubang tersebut. Ketika melihat betapa dalamnya lubang itu, mereka berkata pada kedua kodok agar pasrah dan mati saja dalam lubang. Karena dalamnya lubang membuat kata-kata itu tidak terdengar. Kedua kodok tersebut mengacuhkan komentar-komentar itu dan mencoba melompat keluar dari lubang dengan segala kemampuan yang ada. Sementara kodok-kodok di atas tetap bersikeras berteriak agar mereka berhenti melompat dan mati saja.

Akhirnya, salah satu dari kodok yang ada di lubang itu mendengar kata-kata kodok di atas dan menyerah, ia pun terjatuh dan mati. Sementara kodok yang satunya lagi tetap melanjutkan lompatannya semampu mungkin. Sekali lagi kerumunan kodok-kodok tersebut berteriak kepadanya agar berhenti mencoba hal yang sia-sia dan mati saja. Tetapi ternyata ia bahkan berusaha lebih kencang lagi dan akhirnya berhasil.

Ketika sampai di atas, seekor kodok bertanya kepadanya, “Apa kau tidak mendengar teriakan kami?” Lalu kodok itu pun (sembari membaca gerakan bibir kodok yang lain) menjelaskan bahwa ia sebenarnya tuli. Akhirnya kerumunan kodok itu pun sadar bahwa selama di bawah tadi mereka dianggap telah memberi semangat kepada sang kodok yang tuli tadi.

Sesungguhnya kekuatan hidup dan mati ada di lidah. Kekuatan kata-kata yang diberikan pada seseorang yang sedang “jatuh” justru dapat membuat orang tersebut bangkit dan membantunya menjalani hari-hari yang tersisa. Kata-kata buruk yang diberikan pada mereka yang sedang jatuh, bisa membunuh mereka.

Hati-hatilah dengan apa yang diucapkan. Suarakan kata kehidupan, kepada mereka yang sedang menjauh dari jalur hidupnya yang benar.

Dikirim oleh Ibu Murdiana Bakti

Kisah Pohon Mangga


Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon mangga besar dan seorang anak lelaki kecil yang senang bermain-main di bawah pohon mangga itu setiap harinya. Ia senang memanjat hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon mangga itu. Demikian pula sebaliknya pohon mangga itu sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu.. anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon mangga itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon mangga.

“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku”, pinta pohon mangga itu.

“Aku bukan anak kecil lagi yang bermain-main dengan pohon mangga lagi!”, jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon mangga itu menjawab, “Duh, maaf aku tak punya uang..... tetapi kau boleh mengambil semua buah manggaku dan menjualnya. Kau bisa membeli mainan yang kau inginkan.”

Anak lelaki itu dengan gembira mengambil semua buah mangga dan menjualnya. Dia sangat gembira. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon mangga itu kembali sedih. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon mangga sangat senang melihatnya datang.

“Ayo bermain-main denganku lagi”, kata pohon mangga.

“Aku tak punya waktu!”, jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”

“Duh Maaf, aku tak memiliki rumah, tetapi kau boleh menebang seluruh dahan dan rantingku untuk membangun rumahmu”, kata pohon mangga.

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon mangga itu dan pergi dengan gembira. Pohon mangga itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang. Tetapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon mangga itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon mangga itu merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

“Ayo bermain-main lagi denganku”, kata pohon mangga.
“Aku sedih”, kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”

“Duh maaf, aku tak punya kapal, tapi kau boleh menebang batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”

Kemudian anak lelaki itu memotong batang pohon mangga itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon mangga itu.

Setelah bertahun-tahun kemudian akhirnya anak lelaki itu datang lagi menemui pohon mangga itu.

“Maaf anakku”, kata pohon mangga itu. “Aku sudah tak punya buah lagi untukmu.”

“Tak apa, aku pun sudah tak memiliki gigi untuk menggigit buah manggamu”, jawab anak lelaki itu.

“Aku juga sudah tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat”, kata pohon mangga itu.

“Sekarang aku sudah terlalu tua untuk itu”, jawab anak lelaki.

“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini”, kata pohon mangga itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang”, kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”

“Oooh bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”

Anak lelaki tidur berbaring di pelukan akar-akar pohon mangga. Pohon mangga itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air mata.

Mungkin Anda berpikir anak lelaki itu telah bertindak sangat jahat terhadap pohon mangga itu. Namun, jika kita berpikir lebih dalam lagi ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon mangga itu adalah orang tua kita. Ketika kita kecil, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau kita dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orangtua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan doa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.

Karya member yang merahasiakan identitasnya.

Bukan Penghalang


SUATU HARI SEORANG bocah berusia empat tahun, agak tuli, dan bodoh di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya.

Ibunya membaca kertas tersebut, "Tommy anak Ibu, sangat bodoh. Kami meminta Ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah."

Sang Ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad yang teguh, "Anak saya Tommy, bukanlah anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia."

Tommy kemudian tumbuh menjadi Thomas Alva Edison, salah satu penemu terbesar tingkat dunia. Dia hanya menempuh pendidikan formal selama 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju.

Dikirim oleh Bapak Nur Ahmad Faizal
Sumber : Sunday Morning Basketball Banjarmasin

Kasih Sayang...


Seorang kakek yang membawa mawar merah duduk bersebelahan dengan seorang pemuda di dalam bus.

Pemuda ini melirik bunga mawar indah yang dibawa sang kakek dan berkomentar, "Ada wanita yang akan memperoleh mawar merah yang indah."
"Benar," kata kakek itu seraya tersenyum.

Beberapa menit berlalu, dan kakek ini menyadari bahwa sang pemuda masih terus memperhatikan bunga mawar yang dibawanya.

"Apa kamu punya kekasih?" tanya si kakek.
"Punya," jawab si pemuda.
"Saya akan bertemu dia, dan saya membawakan dia hadiah ini," si pemuda menunjukkan sebuah kartu ucapan.

Si kakek mengangguk-angguk. Beberapa menit kemudian, si kakek berdiri, berpamitan kepada si pemuda karena tujuannya sudah sampai. Sambil melangkah melewati pemuda ini, si kakek memberikan semua mawar yang dibawanya.

"Berikanlah mawar ini untuk kekasihmu," katanya. "Saya akan memberitahu isteri saya tentang ini, dan saya yakin dia pasti akan setuju."

Kakek itu lalu turun, dan si pemuda melihat si kakek berjalan masuk ke kompleks pemakaman menuju nisan isterinya.

Pesan :
Syukurilah cinta yang dianugerahkan Tuhan pada kita. Walaupun jauh atau kehilangan seseorang, tapi kebahagiaan cinta akan terasa selamanya.


Dikirim oleh Bapak Nur Ahmad Faizal
Sumber : Sunday Morning Basketball Banjarmasin

Lima Menit Saja


Pada suatu hari seorang wanita duduk di taman di samping seorang laki-laki.

Wanita itu menunjuk seorang anak laki-laki, "itu anakku."

Anak itu sedang bermain di papan luncuran.

"Wah bagus sekali" kata laki-laki itu. "Itu anakku" ia menunjuk anak laki-laki yang bermain ayunan.

Setelah cukup lama laki-laki itu melihat arlojinya kemudian mengajak anaknya untuk pulang.

Namun, anaknya merengek "5 menit lagi ya Pa?"

Laki-laki itu mengangguk. Lima menit berlalu. Kemudian ia mengajak anaknya untuk pulang.

Lagi-lagi anaknya merengek "5 menit lg ya pa?"

Laki-laki itu lagi-lagi mengangguk. Wanita yang duduk di sampingnya kagum dan memuji betapa sabarnya dia sebagai seorang ayah. Laki-laki kemudian bercerita tentang anaknya yang lebih tua, terbunuh selagi bersepeda di dekat situ. Ia tak pernah meluangkan waktu untuk anaknya. Ia bernazar tidak akan mengulanginya lagi terhadap anaknya yang kedua.

"Mungkin anak saya pikir dia mendapatkan tambahan waktu bermain, tapi sayalah yang dapat tambahan waktu untuk bersamanya dan menikmati waktu bahagia dengannya.

Hidup ini bukanlah lomba. Hidup adalah membuat prioritas. Berikanlah tambahan waktu 5 menit pada orang yang kita kasihi. Pasti kita tak akan menyesal selamanya. Prioritas apa yang Anda miliki saat ini?

Dikirim Oleh Ibu Listia

Ini Hal Yang Baik


Cerita bermula tentang seorang raja di afrika yang memiliki teman dekat yang juga teman sepermainan semasa kecil. Sang Teman mempunyai sebuah kebiasaan melihat setiap kejadian dalam hidupnya baik positif mau negatif dengan sepatah kata “ini hal yang baik”.

Suatu hari sang Raja dan temannya itu pergi berburu ke hutan. Seperti biasanya temannya akan mengisi dan menyiapkan senapan berburu buat sang Raja. Rupanya tanpa sengaja sang Teman membuat kelalaian ketika menyiapkan salah sebuah senapan tersebut. Sebab begitu raja mengambil senapan meletuslah senapan itu dan ibu jari sang Raja pun tertembak.

Melihat kejadian itu, seperti biasanya pula sang Teman berujar, “ini adalah hal yang baik!”

tetapi apa jawab sang Raja?

“Tidak, ini bukan hal yang baik!” dan saat itu juga sang Raja langsung memenjarakan temannya.

Sekitar setahun kemudian, sang Raja pergi berburu di sebuah daerah yang seharusnya tidak dijelajahi. Di sana orang-orang kanibal pemakan manusia pun menangkap sang Raja dan membawanya ke kampung mereka. Mereka mengikat sang Raja, menyusun kayu bakar, menaikkan sebuah pancang dan menyeretnya ke tiang itu. Begitu mereka mendekat untuk menghidupkan api unggun, mereka baru menyadari kalau ibu jari tangan sang Raja hilang satu. Sesuai kepercayaan mereka yang selama ini tak pernah memakan orang yang tidak lengkap organ tubuhnya, maka mereka pun melepaskan ikatan tangan sang Raja dan membebaskannya.

Begitu tiba di istana, sang Raja teringat kembali kejadian yang telah membuatnya kehilangan ibu jari tangannya dan merasa penyesalan yang dalam atas perlakuannya kepada temannya dahulu. Ia pun segera menuju penjara untuk menemui temannya.

“Engkau benar”, ujar sang raja. “Memang hal yang baik kalau ibu jari saya tertembak.”

Dan raja pun menceritakan kepada temannya semua telah dialaminya. Dan karena itulah aku sangat menyesal telah memenjarakanmu begitu lama. Sungguh tidak pantas aku memperlakukanmu demikian rupa.

“Tidak”, jawab temannya, “Begitu juga baik.”
“Apa maksudmu mengatakan bahwa ini hal yang biasa juga? Baik apanya kalau aku telah memenjarakan teman sendiri selama satu tahun?”
“Kalau hamba tidak dipenjara, hamba pasti akan bersama paduka ketika paduka ditangkap kanibal-kanibal itu, dan nasib hamba tentu lebih buruk lagi.”

Pesan : HIDUP LEBIH BERARTI BILA PANDAI MENGAMBIL HIKMAHNYA.

Dikirim oleh Ibu Murdiana Bakti
Sumber : Cahaya Maitri

Mengubah Dunia


Tatkala aku masih muda serta bebas dan imajinasiku mengembara tanpa batas, aku bercita cita untuk mengubah dunia.

Tatkala aku semakin tua dan bijaksana, aku menyadari bahwa dunia tak akan berubah, dan aku agak memendekkan sasaranku serta memutuskan untuk mengubah negeriku saja.

Namun ini pun tampaknya tak dapat diubah, tatkala aku kian jauh mengarungi masa tuaku, dalam suatu upaya yang nekat, aku berniat keras untuk mengubah keluargaku saja, mereka memiliki hubungan terdekat denganku,
namun aduh, mereka pun tak berbeda.

Dan kini tatkala aku terbaring di ranjang kematianku. Aku tiba tiba menyadari:
ANDAIKATA DULU AKU PERTAMA KALI MENGUBAH DIRIKU SENDIRI SAJA,

Melalui teladan barang kali aku berhasil mengubah keluargaku. Dari inspirasi dan dorongan mereka, aku seharusnya mampu memperbaiki negeriku dan, siapa tahu, aku mungkin mampu mengubah dunia.
(ANONIM)

Dikutip dari buku:
The Power of TRANSFORMATION.
Dikirim oleh Bapak Ferriyanto Lim

Semangkuk Bakmi Panas


Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”
”Ya, tetapi, aku tidak membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

“Ada apa nona?” tanya si pemilik kedai.
“Tidak apa-apa, aku hanya terharu” jawab Ana sambil mengeringkan air matanya. “Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi, tetapi, ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata, “Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”

Ana, terhenyak mendengar hal tsb. “Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu
berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang”.

Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

Seringkali kita menganggap pengorbanan mereka merupakan suatu proses alami yang biasa saja; tetapi kasih dan kepedulian orang tua kita adalah hadiah paling berharga yang diberikan kepada kita sejak kita lahir.

Sumber : http://www.facebook.com/l/3ba13;motivation-live.blogspot.com

Perlombaan Kancil dan Kera

Di suatu hutan yang sejuk dan nyaman, hiduplah dua sahabat kecil, namanya Kera dan Kancil. Mereka berdua sedang menikati hangatnya cahaya matahari yang terasa hangat menyentuh mereka di balik pepohonan. Tiba – tiba muncul ide iseng di kepala si Kera untuk mengajak si Kancil berlomba membuktikan diri, siapa yang lebih hebat di antara mereka berdua.

Karena merasa tertantang akhirnya si Kancil pun menerima tantangan temannya. Kera yang merasa lebih hebat dalam memanjat langsung mengajak sahabatnya menemui si Tupai kecil yang tinggal di batang pohon “inspirasi” dan berniat menjadikannya sebagai juri. Begitu tiba di tempat Tupai, mereka menyampaikan maksud kedatangan mereka untuk menjadikannya sebagai juri dalam perlombaan yang mereka rencanakan.

Karena tidak tahu maksud kedua temannya si Tupai asal saja berkata “Baiklah, siapa yang lebih dulu mencapai puncak pohon inspirasi ini akan diakui sebagai orang hebat.” Si Kera langsung melompat dan tidak lama dia melambai–lambai ke bawah dengan tatapan mengejek. Kancil yang tidak bisa memanjat pohon inspirasi langsung protes dan mengajak temannya untuk mangadakan pertandingan ulang, dengan menjadikan Pak Kuda sebagai jurinya.

Pak Kuda yang tinggal di lereng gunung motivasi terkaget–kaget mendengar ide jahil mereka berdua. Lalu dengan asal saja Pak Kuda mengatakan, “Baiklah, siapa yang lebih dulu mencapai puncak gunung “motivasi” ini, akan diakui sebagai yang terhebat”. Tanpa pikir panjang si Kancil berlari secepat -cepatnya. Setiba di atas dia berteriak ke bawah dan melambaikan kakinya dengan tatapan yang tak kalah mengejek.

Pak Beruang yang sedari tadi memperhatikan tingkah dua warga hutan itu mendekat dan bicara pada mereka berdua, “Kalian sedang apa sih?” Kera yang merasa di kalahkan menjawab, “Si Kancil tu pak, masa ngajak saya lari ke puncak gunung motivasi. Yah mana kuat saya mengejarnya?” Si Kancil yang merasa tidak begitu ceritanya langsung protes, “Gak kok pak, si Kera tu yang ngajak lomba, tadi dia ngajak saya lomba manjat pohon inspirasi. Yah jelas saya kalah lah.”

Pak beruang langsung mengerti duduk masalahnya, dan berkata “kalian lihat pulau di kaki gunung motivasi itu?” Mereka berdua serentak menjawab, “iya pak.” “Baiklah, bagaimana kalo kalian berdua berlomba mencapai pulau itu dan siapa yang bisa mengambil buah inspirasi di pohonnya yang ada di pulau itu, dia yang menang! setuju?” Setelah keduanya meng-iya-kan Pak Beruang langsung menghitung “1… 2… 3…” Mereka berdua pun langsung berlari secepat–cepatnya untuk mencapai pulau di kaki gunung motivasi dan memetik buah di atas pohon inspirasi seperti mana di nyatakan oleh pak beruang.

Kancil dengan gesit menyebrangi sungau kecil yang terbentang antara pulau kecil dan gunung motivasi dengan melompat-lompat kecil. Sementara si Kera tertinggal karena tidak ada dahan yang bisa dijadikan ayunan untuk menyebrang ke pulau itu. Sesampainya diseberang pulau si Kancil malah bingung sendiri. Bagaimana caranya memetik buah inspirasi yang tergantung tinggi itu? Pada saat yang bersamaan si Kera berteriak pada sahabatnya, “Kancil, jemput aku di sini! Dan aku akan mengambilkan buah inspirasi itu untuk kamu!” Kancil berpikir sejenak. Setelah yakin untuk menjemput Kera dia pun melompat dan menjemput temannya di seberang. Kera menaiki punggung Kancil dan mereka berdua pun sampai di pulau seberang. Sesuai janjinya Kera memanjat pohon itu untuk sahabatnya.

Di kejauhan Pak Beruang bertepuk riang menyaksikan kerja sama mereka berdua! “Kalian sudah liat sendiri? Kalian berdua berbeda dan masing–masing memiliki peran yang unik dalam tim! Kita tidak bicara siapa yang terhebat di antara kita. Tapi bagaimana mengorganisir semua kelebihan kita untuk dijadikan sebuah kekuatan yang tidak terkalahkan!”

Si Kancil dan Kera pun sadar bahwa kerja sama tim harus lebih diutamakan. Mereka berdua bersalaman, kembali ke bawah pohon dan menikati hangatnya cahaya matahari.

Sumber : http://www.facebook.com/l/2ccc8;motivasidiri.net

Meja Kayu


Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orang tua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orang tua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu,” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk Pak Tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang Kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si Kakek.

Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada air mata yang tampak mengalir dari gurat keriput si Kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang Ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si Kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

~Author Unknown ~

Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Sumber : http://www.facebook.com/l/3a9f1;resensi.net

Rahasia Kebahagiaan


Ada seorang anak yatim piatu yang tak punya keluarga dan tak ada yang mencitainya. Pada suatu hari, saat ia sedang berjalan-jalan di padang rumput sambil merasa sangat sedih dan kesepian, ia melihat seekor kupu-kupu kecil terperangkap dalam semak berduri. Semakin kuat kupu-kupu itu berjuang untuk membebaskan diri, semakin dalam duri menusuk tubuhnya yang rapuh. Dengan hati-hati anak yatim piatu itu melepaskan kupu-kupu itu dari perangkapnya. Kupu-kupu itu tidak terbang, tapi berubah menjadi peri yang cantik. Anak kecil itu menggosok matanya karena tak percaya.

“Untuk kebaikan hatimu,” peri baik itu berkata pada si Anak “Aku akan mengabulkan permintaanmu.”
Si anak kecil berpikir sejenak lalu menjawab, “Aku ingin bahagia!”
Peri itu berkata, “Baiklah,” lalu mencondongkan tubuhnya pada si Anak dan berbisih di telinganya. Lalu peri baik itu menghilang.

Saat anak kecil itu tumbuh dewasa, tak ada orang lain yang sebahagia dirinya. Semua orang menanyakan rahasia kebahagiaannya. Ia hanya tersenyum dan menjawab “Rahasia kebahagiaanku adalah aku mendengarkan nasihat seorang peri baik waktu aku masih kecil.”

Waktu ia sudah tua dan akan menemui ajal, tetangganya berkumpul di kamarnya, takut kalau rahasia kebahagiaannya akan dibawa mati.

“Katakanlah pada kami,” mereka memohon “Katakanlah apa yang dikatakan peri baik itu,”

Wanita tua cantik itu hanya tersenyum dan berkata, “Ia memberitahuku bahwa semua orang, tak peduli mereka tampak semapan apapun, setua atau semuda apapun, sekaya atau semiskin apapun, mereka memerlukanku.”

Pesan:
Jadilah pribadi yang berguna bagi diri sendiri, orang lain, serta orang banyak.

Kesabaran Belajar


Seorang anak muda mengunjungi seorang ahli permata dan menyatakan maksudnya untuk berguru. Ahli permata itu menolak pada mulanya, karena dia kuatir anak muda itu tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk belajar. Anak muda itu memohon dan memohon sehingga akhirnya ahli permata itu menyetujui permintaannya. “Datanglah ke sini besok pagi” katanya.

Keesokan harinya, ahli permata itu meletakkan sebuah batu berlian di atas tangan si Anak muda dan memerintahkan untuk menggenggamnya. Ahli permata itu meneruskan pekerjaannya dan meninggalkan anak muda itu sendirian sampai sore.

Hari berikutnya, ahli permata itu kembali menyuruh anak muda itu menggenggam batu yang sama dan tidak mengatakan apa pun yang lain sampai sore harinya. Demikian juga pada hari ketiga, keempat, dan kelima.

Pada hari keenam, anak muda itu tidak tahan lagi dan bertanya, “Guru, kapan saya akan diajarkan sesuatu?”
Gurunya berhenti sejenak dan menjawab, “Akan tiba saatnya nanti,” dan kembali meneruskan pekerjaannya.

Beberapa hari kemudian, anak muda itu mulai merasa frustrasi. Ahli permata itu memanggilnya dan meletakkan sebuah batu ke tangan pemuda itu. Anak muda frustrasi itu sebenarnya sudah hendak menumpahkan semua kekesalannya, tetapi ketika batu itu diletakkan di atas tangannya, anak muda itu langsung berkata, “Ini bukan batu yang sama!”

“Lihatlah, kamu sudah belajar,” kata gurunya.

Pesan:
Ilmu tanpa terasa telah didapatkan seseorang, jika ia sabar dalam belajar.
Sumber: http://www.facebook.com/l/1541f;motivation-live.blogspot.com

Kisah Wortel, Telur, dan Kopi


Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.

Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.

Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”
"Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak.

Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.

Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si Anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”

Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.

“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”

“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?”

“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”

“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”

“Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatu pun yang mampu menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri”

Sumber : http://www.facebook.com/l/c6713

Buah Kebijaksanaan


Menjelang malam, seorang pemuda sedang perjalanan pulang menuju rumahnya dengan mengendarai sepeda motor kesayangannya. Tidak jauh dihadapan tampak tiga orang berdiri di tepi jalan yang sedang sepi. Sepertinya mereka membutuhkan pertolongan segera, sebuah keluarga yang terdiri seorang bapak, ibu, dan seorang gadis. Terlihat lambaian tangan dari seorang si Bapak untuk menghentikan laju motor si Pemuda. Dengan segera si Pemuda itu berhenti dan mematikan sepeda motornya.

Pemuda itu pun bertanya pada keluarga itu, “Iya Pak, ada apa?“
“Tolong kami Nak, kami baru saja mengalami kecelakaan. Mobil kami tiba-tiba oleng dan harus mengeremnya. Akibatnya kami harus banting setir agar tidak menabrak pohon di depan. Sekarang ban mobil terperosok dalam lubang dan susah untuk diangkat. Kejadian ini menyebabkan putri kami satu-satunya mengalami luka-luka memar.” Jawab seorang bapak tadi dengan nada khawatir.

Setelah si Pemuda melihat ke arah putri Bapak tadi, betapa berbunga-bunganya hati si Pemuda melihat paras cantik wanita itu. Dalam hidupnya ini kali pertama terpesona dengan kecantikan seorang wanita, walaupun hanya sebentar saja. Sepertinya wanita itulah yang menjadi idaman hati yang selama ini ia cari.

“Penyakit istri saya kambuh akibat kejadian ini, dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Jika tidak nyawa istri saya dalam bahaya.” Lanjut jawaban dari si Bapak dengan nada lebih khawatir. “Tolong kami Nak.”

Karena motor yang dimiliki si Pemuda hanya mampu membawa seorang penumpang, si Pemuda pun terdiam sejenak. Ia dihadapkan dengan beberapa pilihan yang harus diambil:
1. Menolong Bapak tadi untuk menaikkan mobilnya yang sejak tadi sulit untuk dilakukan agar kedua anggota keluarganya bisa segera dibawa ke rumah sakit.
2. Membawa putrinya ke rumah sakit karena dia adalah wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya dengan bahagia sampai tua, yang mungkin bisa kehilangan kesempatan bertemu dengannya lagi.
3. Membawa si Ibu ke rumah sakit karena dia sedang dalam keadaan darurat yang membahayakan keselamatan nyawanya.

Masing-masing adalah pilihan kebaikan yang penting untuk dilakukan pada saat-saat genting. Jika salah sedikit dalam pengambilan keputusan itu, akan berakibat sangat serius. Akhirnya, diserahkanlah kunci motor si Pemuda kepada Bapak untuk membawa istrinya ke rumah sakit. Si Pemuda tetap tinggal di tempat untuk berusaha menaikkan mobil itu bersama dengan si Gadis sampai berhasil dilakukan. Ketiga pilihan pun berhasil diambilnya.

Beberapa bulan kemudian menikahlah Pemuda dan Gadis dengan sambutan senyuman hangat dari kedua mertua yang telah diselamatkan beberapa bulan lalu. Karena kebijaksanaan yang dimiliki si Pemuda tersebut, orang tua gadis itu memberikan kepercayaan untuk mengelola perusahaannya yang ternama di Kota Klaten. Pemuda dan Gadis itupun menjalani kehidupan rumah tangganya dengan bahagia sampai saat ini.

Pesan:
Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk dapat melakukan semua kebaikan dalam hidup ini. Latihlah kebijaksanaan itu, maka dapatkanlah manfaat yang jauh lebih besar daripada melakukan satu kebaikan saja.

Oleh Wahyu Kushardiyanto
Sumber: Buku DAHSYATKAN HIDUP DENGAN MOTIVASI Versi 1
Bagian IX tentang Kebijaksanaan
Terbit awal Januari 2010
Semoga Bermanfaat

Kesalahan Seorang Kakek


Seorang kakek menangis di sebuah kuburan tua pada suatu sore.
Seorang pemuda mengamatinya dari kejauhan. Karena penasaran, tanpa bersuara didekatinya kakek tersebut.

"Aku mencintaimu.. aku mencintaimu.. aku mencintaimu.. aku mencintaimu sayang,.." terdengar oleh sang Pemuda sedu suara kakek itu berulang-ulang.

Sang pemuda berpikir mungkin yang dikubur anaknya yang mati karena perang atau sakit.

Pada sore berikutnya, ternyata kakek itu masih datang, dan datang lagi pada sore-sore selanjutnya. Dan masih membawa bunga segar, sambil menangis di pusara tua.

Tak kuat dengan rasa penasarannya, pemuda itu memberanikan diri bertanya, "Kek.." disentuhnya pundak si Kakek. Kakek itu menoleh sambil mengusap air matanya.

"Siapa yang dikubur di bawah sana, Kek?"

"Istriku. Aku telah menikah dengannya selama 27 tahun. Ia meninggal 5 tahun yg lalu."

"Kenapa Kakek tiap sore menangis di sini? Apa Kakek punya kesalahan yang besar?"

"Besar. Besar sekali." sang Kakek kembali terisak.

"Sudahlah Kek, istri kakek pasti memaafkan kakek. Saya dengar kakek mengucapkan kata cinta kakek berkali-kali." jawab pemuda itu.

Tangis kakek tua itu makin menangis menjadi-jadi.

"Itulah kesalahan terbesarku anak muda. Aku sangat mencintainya, namun aku tak mengungkapkan itu padanya, selama dia masih hidup...."


Dikirim Oleh Ibu Liza Ariani

Harga Buku


Mengambil kesimpulan dari masukan Anggota, agar harga buku menarik dan terjangkau oleh semua kalangan, ada ketentuan buku yang akan dirubah yaitu halaman buku yang semula 400 halaman menjadi 200 halaman.

Harga yang ditetapkan:
Harga di Gramedia / Toko Buku lainnya Rp. 50.000,-

Bagi anggota Grup yang berminat boleh bayar Rp 35.000,- untuk yang berada di Jawa, untuk Luar Jawa Rp 40.000,- (sudah termasuk biaya kirim)
(Tapi maksimal 100 orang saja ya? Takut nanti habis terus gak sampai ke Gramedia He he he)
(Bukunya saja belum dicetak apalagi ditawarkan, tapi kok sudah banyak yang pesen ya? Sampai nangis ni. He3)

Pemesanan langsung lewat facebook, hanya berlaku sebelum buku disetorkan ke Toko (sebelum awal Januari 2010)

Info pemesanan:
Tidak sekarang. Tunggu kabar selanjutnya awal Desember 2009. (Mohon sabar tunggu timing yang tepat ^_^ )

Jika ada pertanyaan atau masukan lain silakan membalas pesan ini.

Terima Kasih

Mainan Anakku


Seperti biasa sepulang dari kantornya Budi selalu marah-marah melihat mainan anaknya berantakan menghalangi mobilnya masuk ke garasi. Ia selalu menyuruh anaknya setiap kali selesai bermain agar membereskan mainannya. Namun, tetap saja mainan berserakan di depan pintu garasi. Terpaksa Budi sendiri yang membereskan mainan anaknya dengan menggerutu dan marah-marah.

Melihat kejadian itu datanglah seorang kakek, tetangga samping rumahnya. Kakek itu menawarkan bantuan kepada Budi.

“Bolehkah saya membantu membereskannya?” Tanya kakek itu pada Budi dengan tersenyum.

“Tapi untuk apa kakek membantu?” Tanya heran Budi sambil melanjutkan, “silakan jika Kakek bersedia.”

Segera si Kakek membantu Budi sambil berkata, “Hal seperti inilah yang selama ini aku nantikan. Dulu waktu anakku kecil aku sering marah-marah melihat anakku memberantakan mainannya. Kini anakku sudah dewasa dan berkeluarga. Ia meninggalkanku untuk hidup bersama suaminya jauh di luar kota. Tinggalah Kakek yang sudah tua ini sendiri di rumah. Aku pun ingin mengulang kembali waktu bersama anakku masih kecil dulu.”

Mendengar perkataan Kakek tadi Budi menjadi termenung seakan mendapatkan sebuah masukan yang sangat berharga untuk merasakan arti penting waktu bersama anak.

Semenjak itu Budi selalu berharap setiap hari bisa melihat mainan anaknya berantakan di depan pintu garasi agar bisa membereskannya sebagai masa-masa yang indah mempunyai anak kecil.


Oleh Wahyu Kushardiyanto
Sumber: Buku “DAHSYATKAN HIDUP DENGAN MOTIVASI

Kisah Dua Sahabat


Dikisahkan dua orang laki-laki sedang berlibur ke sebuah pulau yang masih alami. Pulau yang indah sepi, sejuk, jauh dari keramaian kota, cocok sekali untuk melepas segala masalah dalam pikiran. Namun, tiba-tiba temannya terkena serangan jantung dan meninggal dunia. Sebelum meninggal, ia sempat memberikan pesan terakhir kepada teman baiknya itu.

“Saya mempunyai uang 200 juta rupiah di bank. Tolong pastikan uang itu untuk anakku laki-laki kuliah di kedokteran.” Meninggalah orang itu menghembus nafas terakhirnya.

Tapi teman baiknya itu sangat tahu kalau anak laki-lakinya seorang playboy kurang ajar, tidak sungguh-sungguh ingin sekolah di kedokteran, yang hanya akan menghabiskan warisannya itu dalam beberapa bulan saja. Sedangkan anaknya sendiri mempunyai keinginan besar menjadi seorang dokter, tapi sebagai orangtua dia tidak mampu untuk menyekolahkannya.

Banyak sekali orang yang menanggapi kejadian ini dengan berbagai pendapat yang berbeda-beda. Dan itu pun sudah terbukti.

Adapun pilihan tugas yang dia ambil untuk mengemban tanggung jawab itu:
1. Ia menyekolahkan anak sahabatnya. (sesuai keinginan sahabatnya)
2. Ia membiayai sekolah anak sahabatnya. (dengan uang yang disediakan)
3. Ia mendidik mental anak sahabatnya. (agar dapat berubah sikapnya)
4. Ia mengelola uang sahabatnya. (uang 200 juta tidak cukup untuk kebutuhan hidup dan sekolah anak sahabatnya sampai lulus)
5. Ia memanfaatkan uangnya. (Itu juga bagian dari hasil usahanya guna keperluan hidup)
6. Ia menyekolahkan anaknya sendiri. (tugas seorang ayah untuk anaknya)
7. Ia berkata jujur. (tentang semua setelah ia menjadi dokter, termasuk warisan itu)

Walaupun tugas itu berat ia melakukannya satu demi satu. Dengan bijaksana sahabat itu mampu mengambil semua pilihannya, tanpa mengabaikan salah satu pilihan di atas.

Oleh Wahyu Kushardiyanto

Kisah ini tereliminasi dari isi buku “DAHSYATKAN HIDUP DENGAN MOTIVASI Versi 1” karena sudah penuh.


(Mata saya sampai berkunang-kunang melihat ribuan pesan yang masuk dalam inbox hanya dalam hitungan jam saja. Begitu antusias para anggota menjawab, sampai saya kalah ini. He3)

Jika ada beberapa pilihan di atas atau lebih yang sama dengan jawaban atau pendapat Bapak / Ibu / Sahabat, maka bagian dari sifat sahabat yang bijaksana itu tercermin dalam diri Bapak / Ibu / Sahabat.

Mari kita latih kebijaksanaan itu.

Terima Kasih.

Kisah Menyentuh Seorang Ibu Tua


Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si Anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si Ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.

"Bu, kita sudah sampai", kata si Anak.

Ada perasaan sedih di hati si Anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.

Si Ibu, dengan tatapan penuh kasih berkata, "Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang. Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan".

Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

Mungkin cerita di atas hanya dongeng. Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita di atas. Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis, dll. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. Kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jikalau ada waktu saja.

Kiranya cerita di atas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, di saat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa. Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.

Sumber : http://www.facebook.com/l/f38c3;kumpulanceritamotivasi.blogspot.com

Point Of View


Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang
berpergian naik pesawat ke Jakarta. Di sampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.

"Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?" tanya si Pemuda.
"Oh... Saya mau ke Jakarta terus "connecting flight" ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua" jawab ibu itu.
"Wouw..... hebat sekali putra ibu”, pemuda itu menyahut dan terdiam
sejenak.

Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.

"Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya
Bu?? Bagaimana dengan adik-adiknya??"
”Oh ya tentu.”

Si Ibu bercerita :
"Anak saya yang ketiga seorang Dokter di Malang, yang keempat Kerja di Perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi Arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi Kepala Cabang Bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang."

Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya
dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh.

"Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??"
Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, "Anak saya yang pertama menjadi Petani di Godean Jogja nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar"
Pemuda itu segera menyahut, "Maaf ya Bu..... kalau ibu agak kecewa ya
dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani "??
Dengan tersenyum ibu itu menjawab, "Ooo ...tidak tidak begitu nak.... Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang
membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani"

Today's lesson :

Everybody in the world is a important person.
Open your eyes....
your heart....
your mind....
your point of view....
because we can't make summary before read "the book" completely.

The wise person says...
The more important thing is not WHO YOU ARE

But
WHAT YOU HAVE BEEN DOING

Sumber: http://www.facebook.com/l/7033c;Gemintang.com

Tambahan Petugas

Agar program harian / periodik terutama kiriman cerita motivasi ke seluruh anggota berjalan mudah dan lancar, dibutuhkan 7 orang dari anggota yang mau sukarela menjadi petugas mengirim cerita motivasi. Masing-masing 1 kali dalam seminggu.

(Sepertinya tidak ada yang mau karena tanpa dibayar, maklum tidak ada income atau sponsor untuk grup ^_^)

Syaratnya lolos menjawab pertanyaan mudah dalam kisah ini:

Dikisahkan seorang Pemuda yang cukup mapan akan melamar pacar yang mencintainya untuk menikah. Secara diam-diam dia datang ke rumah pacarnya untuk memberi kejutan itu. Namun, ia tidak sengaja mendengar percakapan pacarnya dengan calon mertua yang tidak diduga sebelumnya. Tiga hari sebelum melamar gadis itu, dia baru mengetahui bahwa pacarnya selama ini ternyata mempunyai penyakit yang berbahaya. Pemuda itu tahu kalau penyakit pacarnya itu tidak bisa disembuhkan. Ia pun tahu kalau nantinya tidak akan mempunyai keturunan karena penyakit itu. Dibutuhkan banyak biaya yang mungkin menghabiskan semua aset kekayaan pemuda tersebut sampai jatuh miskin dan belum tentu pacarnya sembuh.

Jika Bapak / Ibu / Saudara berada dalam posisi Pemuda tersebut, apa yang akan dilakukan?

Jika ada komentar dan masukan juga silakan membalas pesan ini.
Terima Kasih.

Pakaian Kebahagiaan


Suatu ketika, tersebutlah seorang raja yang kaya raya. Kekayaannya sangat melimpah. Emas, permata, berlian, dan semua batu berharga telah menjadi miliknya. Tanah kekuasaannya, meluas hingga sejauh mata memandang. Puluhan istana, dan ratusan pelayan siap menjadi hambanya.

Karena ia memerintah dengan tangan besi, apapun yang diinginkannya hampir selalu diraihnya. Namun, semua itu tak membuatnya merasa cukup. Ia selalu merasa kekurangan. Tidurnya tak nyenyak, hatinya selalu merasa tak bahagia. Hidupnya, dirasa sangatlah menyedihkan.

Suatu hari, dipanggillah salah seorang prajurit tebaiknya. Sang Raja lalu berkata, “Aku telah punya banyak harta. Namun, aku tak pernah merasa bahagia. Karena itu”, ujar sang raja, “aku akan memerintahkanmu untuk memenuhi keinginanku.” Pergilah kau ke seluruh penjuru negeri, dari pelosok ke pelosok, dan temukan orang yang paling berbahagia di negeri ini. Lalu, bawakan pakaiannya kepadaku.”

“Carilah hingga ujung-ujung cakrawala dan buana. Jika aku bisa mendapatkan pakaian itu, tentu, aku akan dapat merasa bahagia setiap hari. Aku tentu akan dapat membahagiakan diriku dengan pakaian itu. Temukan sampai dapat! ” perintah sang Raja kepada prajuritnya. “Dan aku tidak mau kau kembali tanpa pakaian itu. Atau, kepalamu akan kupenggal !!”

Mendengar titah sang Raja, prajurit itu pun segera beranjak. Disiapkannya ratusan pasukan untuk menunaikan tugas. Berangkatlah mereka mencari benda itu. Mereka pergi selama berbulan-bulan, menyusuri setiap penjuru negeri. Seluas cakrawala, hingga ke ujung-ujung buana, seperti perintah Raja. Di telitinya setiap kampung dan desa, untuk mencari orang yang paling berbahagia, dan mengambil pakaiannya.

Sang Raja pun mulai tak sabar menunggu. Dia terus menunggu, dan menunggu hingga jemu. Akhirnya, setelah berbulan-bulan pencarian, prajurit itu kembali. Ah, dia berjalan tertunduk, merangkak dengan tangan dan kaki di lantai, tampak seperti sedang memohon ampun pada Raja. Amarah Sang Raja mulai muncul, saat prajurit itu datang dengan tangan hampa.

“Kemari cepat!!. “Kau punya waktu 10 hitungan sebelum kepalamu di penggal. Jelaskan padaku mengapa kau melanggar perintahku. Mana pakaian kebahagiaan itu!” gurat-gurat kemarahan sang Raja tampak memuncak. Dengan airmata berlinang, dan badan bergetar, perlahan prajurit itu mulai angkat bicara. “Duli tuanku, aku telah memenuhi perintahmu. Aku telah menyusuri penjuru negeri, seluas cakrawala, hingga ke ujung-ujung buana, untuk mencari orang yang paling berbahagia. Akupun telah berhasil menemukannya.”

Kemudian, sang Raja kembali bertanya, “Lalu, mengapa tak kau bawa pakaian kebahagiaan yang dimilikinya?”
Prajurit itu menjawab, “Ampun beribu ampun, duli tuanku, orang yang paling berbahagia itu, TIDAK mempunyai pakaian yang bernama kebahagiaan.”


Teman,,, bisa jadi, memang tak ada pakaian yang bernama kebahagiaan. Sebab, kebahagiaan, seringkali memang tak membutuhkan apapun, kecuali perasaan itu sendiri. Rasa itu hadir, dalam bentuk-bentuk yang sederhana, dan dalam wujud-wujud yang bersahaja.

Seringkali memang, kebahagiaan tak di temukan dalam gemerlap harta dan permata. Seringkali memang, kebahagiaan, tak hadir dalam indahnya istana-istana megah. Dan ya, kebahagiaan, seringkali memang tak selalu ada pada besarnya penghasilan kita, mewahnya rumah kita, gemerlap lampu kristal yang kita miliki, dan indahnya jalinan sutra yang kita sandang.

Seringkali malah, kebahagiaan hadir pada kesederhanaan, pada kebersahajaan. Seringkali rasa itu muncul pada rumah-rumah kecil yang orang-orang di dalamnya mau mensyukuri keberadaan rumah itu. Seringkali, kebahagiaan itu hadir, pada jalin-jemalin syukur yang tak henti terpanjatkan pada Ilahi.

Sebab, kebahagiaan itu memang adanya di hati, di dalam kalbu ini. Kebahagiaan, tak berada jauh dari kita, asalkan kita mau menjumpainya. Ya, asalkan kita mau mensyukuri apa yang kita punyai, dan apa yang kita miliki. Adakah “pakaian-pakaian kebahagiaan” itu telah Anda sandang dalam hati? Temukan itu dalam diri.

Dikirim oleh Ibu Oktavia Elisawati

Kopi Asin


Seorang pria bertemu dengan seorang gadis di sebuah pesta, si Gadis tampil luar biasa cantiknya, banyak lelaki yang mencoba mengejar si Gadis. Sedangkan si Pria sebetulnya tampil biasa saja dan tak ada yang begitu memperhatikan dia, tapi pada saat pesta selesai dia memberanikan diri mengajak si Gadis untuk sekedar mencari minuman hangat. Si Gadis agak terkejut, tapi karena kesopanan si Pria itu, si Gadis mengiyakan ajakannya. Dan mereka berdua akhirnya duduk di sebuah coffee shop, tapi si Pria sangat gugup untuk berkata apa-apa suasana hening ini berlangsung cukup lama, dan akhirnya si Gadis mulai merasa tidak nyaman dan berkata, "Kita pulang aja yuk...?!?".

Namun, tiba-tiba si Pria meminta sesuatu pada sang Pramusaji, "Bisa minta garam buat kopi saya?" Semua orang yang mendengar memandang dengan heran ke arah si Pria, aneh sekali!!. Wajahnya berubah merah, tapi tetap saja dia memasukkan garam tersebut ke dalam kopinya dan meminumnya. Si Gadis dengan penasaran bertanya, "Kenapa kamu bisa punya hobi seperti ini?", si Pria menjawab, "Ketika saya kecil, saya tinggal di daerah pantai dekat laut, saya suka bermain di laut, saya dapat merasakan rasanya laut, asin dan sedikit menggigit, sama seperti kopi asin ini.

Dan setiap saya minum kopi asin, saya selalu ingat masa kanak-kanak saya, ingat kampung halaman, saya sangat rindu kampung halaman saya, saya kangen kepada orang tua saya yang masih tinggal di sana."

Begitu berkata kalimat terakhir, mata si Pria mulai berkaca-kaca, dan si Gadis sangat tersentuh akan perasaan tulus dari ucapan pria di hadapannya itu. Si Gadis berpikir bila seorang pria dapat bercerita bahwa ia rindu kampung halamannya, pasti pria itu mencintai rumahnya, peduli akan rumahnya dan mempunyai tanggung jawab terhadap rumahnya. Kemudian si Gadis juga mulai berbicara, bercerita juga tentang kampung halamannya nun jauh di sana, masa kecilnya, dan keluarganya.

Suasana kaku langsung berubah menjadi sebuah perbincangan yang hangat juga akhirnya menjadi sebuah awal yang indah dalam cerita mereka berdua. Mereka akhirnya berpacaran. Si Gadis akhirnya menemukan bahwa si pria itu adalah seorang lelaki yang dapat memenuhi segala permintaannya, dia sangat perhatian, berhati baik, hangat, sangat perduli .. betul-betul seseorang yang sangat baik. Si Gadis hampir saja kehilangan seorang lelaki seperti itu! Untung ada kopi asin!!

Kemudian cerita berlanjut seperti layaknya setiap cerita cinta yang indah, si Gadis menikah dengan si Pria dan mereka hidup bahagia selamanya, dan setiap saat si gadis membuat kopi untuk si Pria, ia membubuhkan garam di dalamnya, karena ia tahu bahwa itulah yang disukai oleh pangerannya.

Setelah 40 tahun, si Pria meninggal dunia, dan meninggalkan sebuah surat yang berkata, "Sayangku yang tercinta, mohon maafkan saya, maafkan kalau seumur hidupku adalah dusta belaka. Hanya sebuah kebohongan yang aku katakan padamu ... tentang kopi asin. Ingat sewaktu kita pertama kali jalan bersama? Saya sangat gugup waktu itu, sebenarnya saya ingin minta gula tapi malah berkata garam. Sulit sekali bagi saya untuk merubahnya karena kamu pasti akan tambah merasa tidak nyaman, jadi saya maju terus. Saya tak pernah terpikir bahwa hal itu ternyata menjadi awal komunikasi kita! Saya mencoba untuk berkata sejujurnya selama ini, tapi saya terlalu takut melakukannya, karena saya telah berjanji untuk tidak membohongimu untuk suatu apa pun.

Sekarang saya sekarat, saya tidak takut apa-apa lagi jadi saya katakan padamu yang sejujurnya, saya tidak suka kopi asin, betul-betul aneh dan rasanya tidak enak. Tapi saya selalu dapat kopi asin seumur hidupku sejak bertemu denganmu, dan saya tidak pernah sekalipun menyesal untuk segala sesuatu yang saya lakukan untukmu.

Memilikimu adalah kebahagiaan terbesar dalam seluruh hidupku. Bila saya dapat hidup untuk kedua kalinya, saya tetap ingin bertemu kamu lagi dan memilikimu seumur hidupku, meskipun saya harus meminum kopi asin itu lagi.”

Air mata si gadis betul-betul membuat surat itu menjadi basah. Kemudian hari bila ada seseorang yang bertanya padanya, apa rasanya minum kopi pakai garam? Si gadis pasti menjawab dengan yakin, "Rasanya manis !! "

Kadang Anda merasa anda mengenal seseorang lebih baik dari orang lain, tapi hanya untuk menyadari bahwa pendapat Anda tentang seseorang itu bukan seperti yang Anda gambarkan. Sama seperti kejadian kopi asin tadi. Tambahkan Cinta dan Kurangi Benci karena terkadang garam terasa lebih manis daripada gula.

Hidup adalah sebuah seni hidup yang teramat indah, nikmatilah dengan tanggung jawab dan rasa syukur. Apapun kelebihan dan kekurangan pasangan anda, kalau Anda tengah mulai punya pasangan terimalah kekurangan-kekurangan pasangan Anda dengan bijaksana.


Dikirim oleh Ibu Oktavia Elisawati

Kisah Nyata - Kebesaran Jiwa Seorang Ibu


Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronic.

Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah di promosikan ke posisi manager. Gaji-nya pun lumayan.

Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor. Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Dirumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit dibagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting. Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be.

Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan rutin layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya. Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. “Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan.” jawab A be.

Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja Ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya. Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali).

Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan dirumah. Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari Ibunya, A be melihat sebuah box kecil. Didalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah. Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun.

Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya. Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa di bendung. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang Ibu-pun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. ” Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di ungkit lagi”.

Setelah ibunya sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja kesupermarket. Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini kedalam media cetak dan elektronik.

Teman2 yang masih punya Ibu (Mama atau Mami) di rumah, biar bagaimanapun kondisinya, segera bersujud di hadapannya. Selagi masih ada waktu. Jangan sia-sia kan budi jasa ibu selama ini yang merawat dan membesarkan kita tanpa pamrih. kasih seorang ibu sungguh mulia.

– happy ending –

sumber : http://www.facebook.com/l/8e196;forum.kapanlagi.com
Posting by http://www.facebook.com/l/8e196;YauHui.net

Cangkir yang Cantik


Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. “Lihat cangkir itu,” kata si nenek kepada suaminya. “Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,” ujar si Kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara “Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.

Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata “belum !” lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata “belum !”

Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.

Wanita itu berkata “belum !” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin.

Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

Sahabat, dalam kehidupan ini adakalanya kita seperti disuruh berlari, ada kalanya kita seperti digencet permasalahan kehidupan. Tapi sadarlah bahwa lakon-lakon itu merupakan cara Tuhan untuk membuat kita kuat. Hingga cita-cita kita tercapai. Memang pada saat itu tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan.

“Sahabat, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”

Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena akhir dari apa yang sedang anda hadapi adalah kenyataan bahwa anda lebih baik, dan makin cantik dalam kehidupan ini.


Dikirim oleh Ibu Oktavia Elisawati.