Laman

Meneladani Pribadi Rosululloh 1


Manusia terlahir tak sama, dengan karakter dan kepribadiannya yang berbeda-beda. Bercermin dari orang-orang terdahulu seperti Mahatma Gandhi, Bunda Theresa, Nelsond Mandela …. Mereka yang memiliki jiwa kepribadian yang mulia. Bukan berarti kita tak memiliki seperti apa yang mereka miliki. Perlunya menggali, menumbuhkembangkan jiwa kita yang penuh kemuliaan di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia. Di sini kami memilihkan Rosululloh sebagai teladan kita semua (seberkas sinar kehidupan beliau, pemimpin orang-orang terdahulu dan kemudian, dari sumbernya dengan singkat), tanpa bermaksud membeda-bedakan agama, karena pada dasarnya semua agama mengajarkan kebenaran dan kebaikan.
………………………………………………………………………………………………………………...............................

Rosululloh lain daripada yang lain karena kefasihan bicaranya, kejelasan ucapannya, yang selalu disampaikan pada kesempatan yang paling tepat dan di tempat yang tidak sulit diketahui. Beliau adalah orang yang lembut, murah hati, mampu menguasai diri, suka memaafkan saat memegang kekuasaan dan sabar saat ditekan.

Orang yang murah hati bisa saja tergelincir dan terperosok. Tapi sekian banyak gangguan yang tertuju kepada beliau justru menambah kesabaran beliau. Di antara sifat kemurahan hati dan kedermawan beliau yang sulit digambarkan, bahwa beliau memberikan apa pun dan tidak takut menjadi miskin. Beliau benar-benar orang yang lebih murah hati untuk hal-hal yang baik daripada angin yang berhembus.

Rosululloh memiliki keberanian, patriotisme dan kekuatan yang sulit diukur dan tidak terlalu sulit untuk diketahui di mana keberadaannya. Beliau adalah orang yang tegar dan tidak bisa diusik, terus maju dan tidak mundur serta tidak gentar.

Beliau tidak pernah lama memandang ke wajah seseorang, menundukkan pandangan, lebih banyak memandang ke arah tanah daripada memandang ke arah langit, pandangannya jeli, tidak berbicara langsung di hadapan seseorang yang membuatnya malu, tidak menyebut nama seseorang secara jelas jika beliau mendengar sesuatu yang kurang disenanginya, tetapi beliau bertanya,”Mengapa orang- orang itu berbuat begitu?”

Rosululloh adalah orang yang paling adil, paling mampu menahan diri, paling jujur perkataannya dan paling besar amanatnya, sehingga beliau dijuluki Al-Amin (orang yang terpercaya).

Rosululloh adalah orang yang paling jauh dari sifat sombong. Beliau tidak menginginkan orang-orang berdiri saat menyambut kedatangannya seperti yang dilakukan terhadap para raja. Beliau biasa menjenguk orang sakit, duduk-duduk bersama orang-orang miskin, memenuhi undangan hamba sahaya, duduk di tengah para sahabat, sama seperti keadaan mereka. Aisyah berkata,”Beliau biasa menambal terompahnya, menjahit bajunya, melaksanakan pekerjaan dengan tangannya sendiri.”

Beliau adalah orang yang paling aktif memenuhi janji, menyambung tali persaudaraan, paling menyayangi dan bersikap lemah lembut terhadap orang lain, paling bagus pergaulannya, paling lurus akhlaknya, paling jauh dari akhlak yang buruk, tidak pernah berbuat kekejian, bukan termasuk orang yang suka mengumpat dan mengutuk, tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa, tetapi memaafkan dan lapang dada, tidak membiarkan seseorang berjalan di belakangnya, tidak mengungguli hamba sahayanya dan pembantunya dalam masalah makan dan pakaian, membantu orang yang justru seharusnya membantu beliau, tidak pernah membentak pembantunya, tidak menegurnya karena perbuatan pembantunya yang tidak beres / tidak mau melaksanakan perintahnya, mencintai orang-orang miskin, tidak mencela orang miskin karena kemiskinannya.

Dalam sebuah perjalanan, beliau memerintahkan untuk menyembelih seekor domba. Seseorang berkata,”Akulah yang akan menyembelihnya.”
Yang lain lagi berkata,"Akulah yang akan mengulitinya.”
Yang lain lagi berkata ,”Akulah yang akan memasaknya.”
Lalu beliau bersabda,”Akulah yang akan mengumpulkan kayu bakarnya.”
Mereka berkata,”Kami akan mencukupkan bagi engkau.”
Beliau bersabda,”Aku sudah tahu kalian akan mencukupkan bagiku. Tapi aku tidak suka berbeda dari kalian.” Setelah itu beliau bangkit lalu mengumpulkan kayu bakar.

…bersambung

[Sirah Nabawiyah]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar